Mohammad Ahsan, legenda bulutangkis ganda putra Indonesia, telah menorehkan tinta emas dalam sejarah olahraga tepok bulu dunia. Dikenal dengan ketenangan dan teknik briliannya di lapangan, perjalanan kariernya membentang panjang, dari masa junior hingga purna tugas sebagai salah satu pemain paling disegani.
Awal Karier dan Pembentukan Diri
Mohammad Ahsan lahir pada 7 September 1987 di Palembang, Indonesia. Kecintaannya pada bulutangkis telah tumbuh sejak usia muda. Ia bergabung dengan klub Djarum pada tahun 2007, sebuah langkah krusial yang membuka jalannya menuju tim nasional Indonesia pada pertengahan tahun 2008.
Di awal karier profesionalnya, Ahsan berpasangan dengan Bona Septano. Bersama Bona, ia mulai menunjukkan potensi dan berhasil meraih medali perunggu di Kejuaraan Dunia BWF 2011. Mereka juga sempat menembus peringkat keenam dunia, menandai awal kemunculannya di kancah internasional.
Era “The Daddies” dan Puncak Kejayaan
Titik balik karier Ahsan datang pada tahun 2012 ketika ia dipasangkan dengan Hendra Setiawan, pebulutangkis senior yang lebih dulu mencicipi kesuksesan Olimpiade. Pasangan ini kemudian dijuluki “The Daddies” oleh para penggemar karena usia dan status mereka yang sudah menjadi seorang ayah, serta gaya bermain mereka yang tenang namun mematikan.
Bersama Hendra Setiawan, Mohammad Ahsan mencapai puncak kejayaan. Mereka berhasil meraih tiga gelar Juara Dunia BWF (2013, 2015, dan 2019), menjadikannya salah satu pasangan ganda putra paling dominan di era mereka. Selain itu, koleksi gelar “The Daddies” juga termasuk tiga kali juara BWF World Tour Finals, dua kali juara All England, dan medali emas Asian Games. Mereka juga pernah menduduki peringkat nomor satu dunia pada 25 Desember 2013. Meskipun sempat berpisah sebentar pada tahun 2016, mereka kembali bersatu pada tahun 2018 dan melanjutkan dominasi mereka.
Akhir Perjalanan Gemilang
Setelah lebih dari satu dekade berpasangan dan mengukir berbagai prestasi, Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan memutuskan untuk pensiun dari bulutangkis internasional. Pertandingan terakhir mereka adalah di babak 16 besar Indonesia Masters 2025 yang berlangsung di Istora Senayan, Jakarta pada 23 Januari 2025. Meskipun kalah di laga terakhir, mereka disambut dengan standing ovation dan sanjungan dari para penggemar, yang menunjukkan betapa besar dampak yang mereka berikan pada dunia bulutangkis.