Rahasia di balik pukulan yang mematikan terletak pada latihan kekuatan otot yang terintegrasi. Banyak orang salah kaprah bahwa power smash hanya berasal dari kekuatan lengan. Padahal, kekuatan sesungguhnya berasal dari koordinasi rantai kinetik yang dimulai dari kaki, pinggul, punggung, hingga berakhir di pergelangan tangan. Tim pelatih di Medan menerapkan latihan beban yang sangat terukur untuk memperkuat otot-otot inti (core) dan otot kaki. Dengan fondasi bawah yang kuat, seorang atlet dapat melakukan lompatan yang lebih tinggi dan menyalurkan momentum energi dari tanah menuju raket dengan jauh lebih efisien.
Selain latihan beban konvensional, para atlet di bawah naungan PBSI Medan juga menjalani sesi latihan pliometrik yang intens. Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan daya ledak otot atau eksplosivitas. Gerakan-gerakan seperti box jumps, burpees, dan latihan menggunakan medicine ball menjadi menu harian yang wajib dijalankan. Melalui latihan yang konsisten, serat otot atlet dilatih untuk berkontraksi dalam waktu yang sangat singkat namun menghasilkan tenaga yang luar biasa besar. Inilah yang memungkinkan seorang pemain untuk melakukan smash beruntun tanpa kehilangan akurasi maupun kekuatannya secara signifikan.
Penerapan program ini dilakukan secara eksklusif dan dipantau oleh ahli fisioterapi untuk memastikan tidak ada cedera yang timbul akibat beban latihan yang berat. Aspek pemulihan juga menjadi bagian tak terpisahkan dalam upaya meningkatkan power smash. Setelah menjalani latihan kekuatan yang menguras tenaga, atlet diwajibkan melakukan sesi peregangan khusus dan terapi air untuk menjaga elastisitas otot. Otot yang kuat namun kaku justru akan menghambat kecepatan ayunan. Oleh karena itu, keseimbangan antara kekuatan dan fleksibilitas menjadi kunci utama yang selalu ditekankan oleh para pelatih di pusat pelatihan Medan.
Penting untuk dipahami bahwa kekuatan fisik hanyalah satu sisi dari koin. Sisi lainnya adalah bagaimana mengaplikasikan kekuatan tersebut ke dalam teknik yang benar. Di lapangan, para atlet dilatih untuk menggunakan sinkronisasi waktu yang tepat saat memukul kok di titik tertinggi. Dengan dukungan otot yang sudah terlatih, mereka dapat menghasilkan sudut pukulan yang lebih curam, sehingga kok jatuh lebih cepat di area pertahanan lawan. Latihan ini dilakukan berulang-ulang hingga menjadi memori otot yang otomatis, sehingga saat dalam kondisi tertekan di pertandingan resmi, atlet tetap bisa melepaskan serangan dengan kualitas terbaik.